32.1 C
Palangkaraya
spot_img

Alumni FISIP UPR Soroti Tantangan Kampus, Harap Rektor Baru Lebih Adaptif

PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM – Universitas Palangka Raya (UPR) perlu terus berkembang sebagai ruang aktualisasi ilmu pengetahuan. Kampus juga harus memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR sekaligus pengurus Ikatan Alumni Universitas Palangka Raya (ILUNI UPR), Damai Alam Usop, menyoroti tantangan perguruan tinggi modern dan harapan terhadap rektor UPR periode 2026–2030.

Tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Karena itu, UPR membutuhkan kepemimpinan yang adaptif dan progresif agar mampu menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan identitas lokal serta semangat pengabdian kepada masyarakat.

“UPR harus menjadi wadah aktualisasi ilmu pengetahuan yang diterapkan langsung ke masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang teoritis. Kampus juga harus memberi solusi konkret untuk persoalan sosial, ekonomi, teknologi, dan pembangunan daerah,” katanyamelalui rilis, selasa (26/5/2026).

Ia menilai disrupsi teknologi, terutama perkembangan Artificial Intelligence (AI), menjadi tantangan utama perguruan tinggi. Teknologi ini berkembang cepat dan memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan. Karena itu, universitas perlu menyesuaikan sistem pembelajaran sekaligus memperkuat kurikulum.

Selain itu, perguruan tinggi juga harus memperkuat kualitas sumber daya manusia agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.

“Integrasi teknologi, termasuk AI, menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan. Perguruan tinggi harus mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, inovatif, dan berdaya saing global,” katanya.

Damai juga menekankan pentingnya konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Selain itu, ia mendorong penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi profesi, serta kolaborasi dengan berbagai sektor strategis.

Di sisi lain, ia menyoroti tata kelola perguruan tinggi. Kampus perlu memperkuat kemandirian finansial, pengelolaan aset, dan kualitas sumber daya manusia.

“Perguruan tinggi harus memiliki tata kelola yang transparan, profesional, dan berkelanjutan. Kemandirian institusi penting agar kampus bisa berkembang dan memberi layanan pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.

Ia juga menekankan kampus sebagai ruang yang aman dan berintegritas. Selain itu, ia mendorong penguatan budaya riset dan inovasi agar hasil penelitian kampus dapat digunakan langsung oleh masyarakat.

“Riset harus aplikatif dan menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, kampus tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi motor pembangunan daerah dan nasional,” katanya.

Menjelang pemilihan rektor UPR periode 2026–2030, Damai berharap pemimpin terpilih mampu membawa UPR menjadi kampus yang modern, inklusif, dan kompetitif tanpa meninggalkan akar budaya Kalimantan Tengah.

Ia juga menilai kolaborasi antara kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, dan alumni perlu diperkuat.

“Rektor harus memiliki visi besar dan mampu membangun sinergi lintas sektor. UPR membutuhkan pemimpin yang menjaga marwah akademik, memperkuat tata kelola, serta membuka ruang inovasi dan kolaborasi,” ujarnya.

Menurutnya, alumni juga memiliki peran penting dalam memperluas jejaring dan memperkuat reputasi kampus.

“UPR adalah rumah bersama. Kemajuan kampus bukan hanya tanggung jawab pimpinan, tetapi juga seluruh civitas akademika dan alumni. Karena itu, kami berharap rektor 2026–2030 mampu merangkul semua elemen untuk mewujudkan UPR yang unggul, modern, dan berakar pada kearifan lokal,” pungkasnya. (Uni/Red)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ikuti kami di

5,928FansSuka
11,220PengikutMengikuti
3,002PelangganBerlangganan

berita terakhir