PALANGKA RAYA, HALOADAYAK.COM — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam, khususnya banjir dan cuaca ekstrem. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan intensif terhadap wilayah-wilayah rawan bencana serta penguatan koordinasi lintas sektor hingga ke tingkat kabupaten dan kota di seluruh Kalimantan Tengah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menyampaikan bahwa pemerintah daerah sejatinya telah memiliki peta kawasan rawan bencana sejak tahun 2000. Peta tersebut merupakan hasil kerja sama antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Universitas Indonesia (UI), yang hingga kini menjadi acuan utama dalam memantau dan mengelola risiko kebencanaan.
“Wilayah rawan bencana di Kalimantan Tengah sudah kita petakan sejak lama melalui kerja sama BNPB dengan Universitas Indonesia. Peta ini menjadi dasar dalam melakukan pemantauan potensi bencana,” ungkapnya saat diwawancarai usai kegiatan di Istana Isen Mulang, Selasa (22/12/2025) malam.
Ia menjelaskan, saat ini seluruh kabupaten di Kalimantan Tengah telah mengaktifkan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops). Pemantauan kondisi wilayah dilakukan setiap hari dengan melibatkan koordinasi langsung bersama pemerintah kabupaten sebagai penanggung jawab utama wilayah masing-masing.
“Setiap hari kami melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan kabupaten. Selain itu, setiap minggu kami juga melibatkan TNI, Polri, serta BMKG untuk memantau kondisi cuaca dan potensi bencana yang mungkin terjadi,” terangnya.
Menurut Ahmad Toyib, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah secara rutin mengingatkan jajaran di lapangan agar selalu menyiapkan personel, sarana dan prasarana, serta dukungan pembiayaan. Kesiapan ini dinilai sangat penting agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
“Jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, harapannya dampaknya sudah bisa diantisipasi oleh rekan-rekan di kabupaten dan kota yang bertanggung jawab penuh terhadap wilayahnya masing-masing. Provinsi dalam hal ini berperan sebagai pendukung atau backup,” tegasnya.
Ia menambahkan, sesuai dengan arahan Gubernur Kalimantan Tengah, BPBD provinsi diminta untuk berperan aktif dalam melakukan pemantauan kondisi lapangan, tidak hanya bersifat menunggu laporan dari daerah. Pemantauan dilakukan secara langsung melalui berbagai saluran informasi, termasuk media sosial dan grup komunikasi berbasis WhatsApp.
“Arahan Bapak Gubernur sudah sangat jelas, BPBD provinsi harus aktif memantau. Jangan hanya menunggu laporan, tetapi juga memantau langsung melalui media sosial maupun grup WhatsApp,” ujarnya.
Terkait wilayah yang berpotensi terdampak banjir akibat tingginya curah hujan, Ahmad Toyib menyebutkan bahwa kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito merupakan wilayah yang kerap menjadi langganan banjir. Apabila hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah hulu seperti Kabupaten Murung Raya, dampaknya dapat mengalir hingga ke wilayah hilir.
“Wilayah yang sering terdampak banjir umumnya berada di kawasan Barito. Mulai dari Murung Raya hingga ke wilayah bawah pasti terkena dampaknya. Sementara di Gunung Mas aliran sungainya menuju Palangka Raya, dan wilayah Katingan serta Kotawaringin Timur juga memiliki potensi yang sama,” jelasnya.
Selain banjir akibat curah hujan tinggi, BPBD Kalimantan Tengah juga mewaspadai potensi terjadinya banjir rob di sejumlah wilayah tertentu. Pemerintah daerah memastikan bahwa kesiapsiagaan akan terus ditingkatkan melalui sinergi lintas sektor, sehingga risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat Kalimantan Tengah dapat diminimalkan secara maksimal. (Uni/Vgs)




