PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM – PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bank Kalteng terus memperkuat inklusi keuangan. Bank menghadirkan skema pembiayaan yang lebih cepat dan mudah. Salah satunya program kredit melawan rentenir.
Bank juga mengembangkan layanan pembiayaan digital. Langkah ini bertujuan agar masyarakat tidak terjerat pinjaman daring (pindar) dan rentenir.
Direktur Utama PT BPD Bank Kalteng, Maslipansyah, mengatakan masih banyak masyarakat belum menjadikan bank sebagai pilihan utama. Kondisi ini menjadi tantangan bagi perbankan.
“Pengamatan kami, masyarakat biasanya mencari dana ke orang terdekat. Setelah itu ke tabungan sendiri. Lalu ke keluarga atau rentenir. Bank sering menjadi pilihan terakhir,” ucapnya, saat media update Triwulan II Tahun 2026 di Kantor OJK Kalteng, (30/6/2026).
Menurutnya, banyak masyarakat menilai proses pinjaman bank terlalu lama. Hal ini membuat sebagian orang memilih pembiayaan informal. Padahal risikonya lebih tinggi.
“Kami perlu mengubah pola pikir itu. Masyarakat ingin layanan yang cepat saat membutuhkan dana,” katanya.
Bank Kalteng bersama pemerintah daerah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan literasi keuangan. Bank juga menghadirkan produk pembiayaan yang lebih sederhana.
“Salah satunya kredit cepat dan simpel atau kredit melawan rentenir. Masyarakat jadi punya pilihan pembiayaan yang legal, aman, dan terjangkau,” jelasnya.
Selain itu, Bank Kalteng mengembangkan skema pembiayaan digital. Skema ini ditujukan sebagai alternatif pinjaman daring ilegal.
“Kami menyiapkan alternatif pengganti pinjaman digital ilegal. Prosesnya masih berjalan. Kami melihat persoalan pindar sudah membebani masyarakat,” ungkapnya.
Maslipansyah menegaskan transformasi digital menjadi fokus Bank Kalteng. Tujuannya agar layanan kredit lebih cepat dan mudah.
“Kami ingin layanan digital banking lebih baik. Proses pinjaman harus lebih cepat, mudah, tetapi tetap sesuai ketentuan,” pungkasnya. (Uni/Red)




