32.1 C
Palangkaraya
spot_img

BI Kalteng Soroti Rupiah dan Inflasi, Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat

PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM – Bank Indonesia (BI) Kalimantan Tengah menilai kondisi perekonomian nasional masih relatif stabil. Meski menghadapi tekanan global dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI), Yuliansah Andrias, menyampaikan hal tersebut saat memaparkan perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter terbaru. Dimana pembahasan nasional, termasuk rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, menunjukkan optimisme terhadap penguatan rupiah pada Juli hingga Agustus 2026.

Adanya sejumlah faktor musiman masih memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Faktor tersebut meliputi kebutuhan pembiayaan jemaah haji, pembayaran utang, dan pembagian dividen ke luar negeri.

“Secara nasional kami meyakini kurs rupiah pada Juli dan Agustus akan menguat. Selama ini pola musiman seperti kebutuhan pembiayaan jemaah haji, pembayaran utang, dan pembagian dividen ke luar negeri memengaruhi pergerakan kurs,” ucapnya, ketika bincang media di Kantor Perwakilan BI Kalteng, Kamis (21/5/2026).

Yuliansyah menilai gejolak ekonomi global masih memberi tekanan terhadap rupiah. Namun, pelemahan rupiah belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

“Gejolak global memberi kombinasi tekanan terhadap rupiah sehingga nilainya terlihat melemah. Padahal, jika melihat fundamental ekonomi, kondisi itu tidak mencerminkan nilai sebenarnya,” ujarnya.

Di sisi kebijakan moneter, Yuliansyah menjelaskan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. Kenaikan tersebut membuat BI Rate berada di level 5,25 persen.

“Pada Mei, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin sehingga BI Rate berada di level 5,25 persen,” jelasnya.

Ia menyampaikan, BI mengambil kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi nasional.

“Bank Indonesia terus mengarahkan inflasi agar tetap berada dalam target nasional. Asumsi makro inflasi berada pada angka 2,5 persen plus minus satu persen sesuai target pemerintah,” tegasnya.

Dengan demikian, BI menilai stabilitas inflasi dan kuatnya fundamental ekonomi menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Kondisi tersebut juga mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (Uni/Red)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ikuti kami di

5,928FansSuka
11,220PengikutMengikuti
3,002PelangganBerlangganan

berita terakhir