ACEH, HALODAYAK.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa percepatan pembukaan akses darurat, konsolidasi pengungsi, serta pendistribusian bantuan logistik menjadi fokus utama dalam penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers yang digelar di Pusat Informasi dan Media Center Penanggulangan Bencana Aceh, Kamis (11/12/2025).
Abdul Muhari menyampaikan bahwa upaya pencarian, evakuasi, serta verifikasi data korban terus dilakukan secara intensif tanpa henti.
“Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, tim gabungan berhasil menemukan 21 jenazah tambahan. Dengan demikian, total korban meninggal dunia kini mencapai 990 jiwa dan seluruhnya masih dalam proses identifikasi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pembaruan terhadap data korban hilang terus dilakukan melalui verifikasi bersama pemerintah daerah.
“Saat ini, jumlah korban yang masih dinyatakan hilang tersisa 222 nama setelah dilakukan verifikasi secara menyeluruh,” jelasnya.
Dalam aspek pengungsian, BNPB mencatat adanya penurunan jumlah pengungsi menjadi 884.889 jiwa. Namun demikian, para pengungsi tersebut masih tersebar di 2.186 titik pengungsian. Pemerintah mulai melakukan konsolidasi dengan memusatkan pengungsi ke lokasi-lokasi terpadu guna meningkatkan efektivitas pelayanan dasar.
“Sebanyak 16.164 pengungsi telah ditempatkan di titik-titik komunal. Sekitar 15 ribu pengungsi mandiri juga akan segera dipindahkan agar pelayanan kesehatan, pemenuhan pangan, serta perlindungan kelompok rentan dapat diberikan secara lebih optimal,” kata Muhari.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait terus menambah fasilitas pendukung di lapangan. Di Sumatera Barat, misalnya, sebanyak 62 dapur umum tambahan telah dioperasikan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pangan, khususnya di lokasi pengungsian yang berbasis rumah ibadah.
Pada sektor logistik, Posko Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mencatat bahwa total bantuan yang masuk sejak 28 November mencapai 498,7 ton.
“Dari total tersebut, sebanyak 351,4 ton telah berhasil didistribusikan ke wilayah terdampak. Sementara sisanya kami siapkan sebagai bumper stock dan terus kami dorong penyalurannya ke daerah-daerah terisolasi melalui jalur udara, darat, maupun laut,” tutur Muhari.
Terkait upaya pembukaan akses darurat, BNPB memastikan percepatan pemasangan jembatan Bailey di sejumlah titik strategis yang terdampak putusnya akses transportasi. Beberapa lokasi menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Kami menargetkan dua jembatan utama sudah dapat dilalui kendaraan roda empat pada akhir pekan ini, sehingga distribusi bantuan dan proses evakuasi bisa berlangsung lebih cepat dan lancar,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mulai mempersiapkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat di Sumatera Barat. Hingga saat ini, dua daerah telah menyelesaikan pendataan by name by address dan tinggal menunggu penerbitan Surat Keputusan Bupati.
Sementara itu, Provinsi Aceh masih berada dalam fase tanggap darurat penuh hingga 25 Desember 2025. Fokus utama penanganan meliputi pemenuhan kebutuhan logistik dan energi, pembukaan akses wilayah terdampak, konsolidasi pengungsi, serta penataan kembali fasilitas umum yang rusak.
Dari unsur TNI, Asisten Teritorial Kodam Iskandar Muda, Kolonel Inf Fransisco, menegaskan kesiapan dan dukungan penuh TNI dalam operasi penanganan darurat di lapangan.
“TNI bekerja selama 24 jam untuk menata pengungsian, mendirikan dapur umum, menjaga keamanan wilayah terdampak, serta mempercepat pembangunan jembatan darurat,” ungkapnya.
BNPB bersama TNI–Polri, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga terkait memastikan bahwa seluruh operasi penanganan bencana diarahkan pada penyelamatan jiwa, pemulihan akses kritis, serta percepatan tahap pemulihan awal bagi masyarakat terdampak. (Uni/Vgs)




