PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM – Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, turut menyoroti persoalan kesejahteraan pengawas sekolah yang sempat menjadi fenomena di lapangan. Karena sebelumnya praktik pemberian biaya pengawasan berjalan tidak seragam dan bergantung pada kebijakan masing-masing sekolah.
“Ada yang memberi Rp50 ribu, Rp500 ribu, bahkan sampai Rp2 juta. Saya sampaikan, ini berarti ada yang salah dalam sistem kita. Kita tidak memperhatikan kesejahteraan pengawas,” katanya, baru – baru ini.
Reza menjelaskan bahwa pihaknya kini telah membenahi kondisi tersebut melalui pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi pengawas sekolah. Ia bersyukur praktik lama tersebut tidak lagi terjadi.
“Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada lagi. Pengawas sudah kita berikan TPP. Tapi ini perjuangan bersama. Kalau saya berjuang sendiri dan bapak ibu tidak, itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan,” katanya, yang disambut tepuk tangan peserta rapat koordinasi.
Meski demikian, Reza menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan harus berjalan seiring dengan peningkatan kinerja. Ia menilai kehadiran dan peran pengawas di lapangan masih perlu diperkuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh sekolah.
“Saya sudah sampaikan sejak awal, kesejahteraan kita tingkatkan, tetapi setiap pengawas harus menunjukkan progres yang jelas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengawas merupakan perpanjangan tangan Kepala Dinas Pendidikan di setiap satuan pendidikan, baik SMA, SMK, maupun SKH. Karena itu, ia meminta pengawas tidak memosisikan diri hanya sebagai pelengkap.
“Bangun bapak dan ibu, bangkit bapak ibu pengawas. Jangan anggap diri hanya complementary. Tanggung jawab bapak ibu sangat besar dan jangan menganggap pekerjaan ini hal yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Reza mengajak seluruh pengawas bekerja dengan panggilan hati dan semangat pengabdian. Ia menilai, jika pengawas menjalankan tugas hanya sebatas formalitas, maka kemajuan pendidikan akan sulit tercapai.
“Kita hidup satu kali dan mati satu kali. Kalau pekerjaan ini hanya dianggap formalitas, pendidikan kita tidak akan maju,” pungkasnya. (Uni/Red)




