24.3 C
Palangkaraya
spot_img

Ekspor Kalteng Menurun, Neraca Perdagangan Tetap Catat Surplus

PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM — Kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan pada Mei 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, nilai ekspor daerah ini mencapai USD 326,52 juta, mengalami penurunan sebesar 0,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, Kalteng tetap berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan senilai USD 14,58 juta sepanjang Januari hingga Mei 2025.

Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa komoditas utama yang menopang ekspor masih didominasi oleh batu bara, crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit, kayu olahan, serta karet remah. Negara-negara seperti India, Jepang, dan Korea Selatan tercatat sebagai mitra dagang utama yang konsisten menyerap komoditas unggulan dari provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai tersebut.

“Penurunan nilai ekspor memang masih dalam batas moderat, namun kita perlu mencermati dinamika pasar internasional, terutama fluktuasi permintaan dari negara-negara tujuan utama,” terang Agnes saat konferensi pers, Jumat (4/7/2025).

Sementara itu, data impor menunjukkan penurunan yang jauh lebih tajam. Nilai impor Kalteng merosot drastis sebesar 68,23 persen secara tahunan (year-on-year), menyentuh angka USD 0,61 juta saja. Barang-barang impor didominasi oleh mesin-mesin industri, pupuk, serta aspal, yang umumnya berasal dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Tiongkok.

Menurut BPS, penurunan signifikan pada impor bisa menjadi indikator turunnya aktivitas industri lokal, namun bisa juga mencerminkan meningkatnya efisiensi pengadaan barang modal oleh pelaku usaha di daerah. Meski secara langsung dapat mengurangi beban devisa, pemerintah tetap diimbau untuk memperkuat strategi substitusi impor lewat peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Di tengah tren penurunan ekspor dan impor, Kalteng tetap mampu menjaga posisi neraca perdagangannya tetap positif. Hal ini mempertegas bahwa sektor ekspor masih menjadi pilar penting bagi ketahanan ekonomi daerah, terutama saat tekanan ekonomi global semakin tidak menentu.

Agnes menambahkan bahwa penguatan ekspor ke depan tidak bisa terus bergantung pada komoditas mentah. Arah pembangunan ekonomi harus mulai berpindah ke sektor hilirisasi dan pengolahan berbasis industri lokal.

“Kalau kita ingin mempertahankan surplus dalam jangka panjang, maka produk ekspor kita harus bernilai tambah. Jangan hanya bahan baku, tapi olahannya juga. Ini akan jadi kunci keberlanjutan ekonomi kita,” pungkasnya. (Uni/Vgs)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ikuti kami di

5,928FansSuka
11,220PengikutMengikuti
3,002PelangganBerlangganan

berita terakhir