ACEH TAMIANG, HALODAYAK.COM – Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyalurkan bantuan terpadu dari Presiden RI dan Kemendagri untuk mempercepat pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan kehadiran negara dalam memulihkan roda pemerintahan, layanan publik, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah menyalurkan sembilan unit skid steer loader mini untuk membersihkan lumpur di permukiman padat. Alat mini ini bisa menjangkau gang sempit tanpa merusak bangunan warga.
“Skid loader ini kelas mini supaya bisa masuk gang-gang. Kalau yang besar justru bisa merobohkan rumah,” ujar Tito saat menyerahkan bantuan di Kompleks Kantor Bupati Aceh Tamiang, Jumat (23/1/2026).
Kemendagri menyiapkan 5.000 pasang sepatu bot, 3.000 gerobak dorong, serta masing-masing 1.000 unit sekop dan cangkul. Dengan dukungan ini, warga dan relawan dapat mempercepat kerja gotong royong membersihkan lumpur di berbagai titik terdampak.
Tito menegaskan Aceh Tamiang termasuk wilayah terdampak paling berat. Banjir dan lumpur merendam permukiman, kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, sekolah, dan pasar.
Meski terdampak parah, Tito menyatakan kondisi daerah kini mulai normal berkat kerja cepat lintas sektor sejak hari pertama pascabencana. Listrik, internet, dan BBM telah pulih, sementara toko dan warung kembali buka, menandai pemulihan aktivitas ekonomi.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menambah alat berat dan menurunkan total 1.788 personel. Personel tersebut berasal dari TNI-Polri, taruna Latsitarda dari berbagai matra, serta kadet Universitas Pertahanan dan Politeknik Siber dan Sandi Negara.
Pemerintah pusat menyalurkan bantuan sosial dan stimulan ekonomi untuk warga terdampak. Selain itu, alokasi Transfer ke Daerah tahun 2026 tetap sebesar tahun sebelumnya, total lebih dari Rp10 triliun untuk tiga provinsi terdampak, termasuk Aceh.
“Semoga bantuan dari Bapak Presiden bisa meringankan dan mempercepat pemulihan Aceh Tamiang. Saat ini, Aceh Tamiang menjadi satu-satunya daerah yang pemerintahannya belum sepenuhnya normal,” pungkas Tito. (Uni/Red)




