PALANGKA RAYA, HALODAYAK.COM – Sektor jasa di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan dinamika yang terus bergerak, mencerminkan perubahan dalam perilaku konsumsi dan mobilitas masyarakat. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tamu hotel berbintang yang tercatat pada Mei 2025 mencapai 44.108 orang, dengan tingkat hunian hotel yang relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Agnes Widiastuti, Kepala BPS Kalteng, menyampaikan bahwa sektor perhotelan di daerah ini mulai menunjukkan pemulihan pasca pandemi. Hal ini selaras dengan peningkatan mobilitas warga serta mulai ramainya kembali aktivitas pariwisata dan agenda-agenda resmi dari pemerintah maupun swasta.
“Meski okupansi hotel belum mencapai level tertinggi seperti sebelum tahun 2020, tren saat ini merupakan sinyal positif menuju pemulihan sektor jasa,” ujarnya.
Pertumbuhan yang cukup mencolok juga terjadi di sektor transportasi udara. BPS mencatat adanya kenaikan jumlah penumpang pesawat sebesar 4,6 persen secara tahunan (year-on-year), sementara volume barang angkutan udara melonjak hingga 24,5 persen. Ini mengindikasikan bahwa roda perekonomian dan logistik di Kalteng mulai berputar lebih cepat.
Namun sebaliknya, transportasi laut mengalami penurunan tajam pada jumlah penumpang, yakni sebesar 34,1 persen. Meskipun demikian, volume barang yang diangkut melalui jalur laut tetap mengalami pertumbuhan sebesar 13,9 persen.
“Data ini menunjukkan adanya perubahan preferensi moda transportasi masyarakat yang kemungkinan beralih ke jalur darat atau udara,” jelas Agnes dalam siaran pers yang dirilis baru-baru ini.
Perubahan tren tersebut, lanjutnya, menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan strategi pembangunan, terutama terkait infrastruktur dan penyediaan layanan publik.
Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko, yang turut hadir dalam pemaparan data tersebut, menegaskan pentingnya data statistik dalam perumusan kebijakan publik.
“Dengan memahami pola mobilitas masyarakat dan distribusi barang, kita bisa menyusun sistem transportasi dan pengembangan pariwisata yang lebih efisien dan merata,” ujarnya.
Yuas juga menekankan pentingnya pengembangan wilayah berbasis konektivitas udara dan digital sebagai salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan jasa.
“Pembangunan harus bertumpu pada data agar tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” tutupnya. (Uni/Vgs)




