JAKARTA, HALODAYAK.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan penguatan kelembagaan ekosistem inovasi di daerah menjadi syarat mutlak. Ini agar Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dan menjadi negara maju pada 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Rilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Menurut dia, inovasi yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sekaligus memaksimalkan bonus demografi.
“Tugas kita bersama adalah membangun ekosistem inovasi. Kepala daerah berganti, bupati pensiun, gubernur selesai, tetapi inovasi sudah menjadi bagian dari kelembagaan atau terbangunnya ekosistem inovasi,” tegas Bima.
BACA JUGA : https://halodayak.com/kajati-kalteng-tekankan-integritas-dan-pencegahan-korupsi/
Ia menjelaskan, ekosistem inovasi harus mencakup riset, regulasi, pelembagaan, para aktor, hingga pendanaan yang jelas. Bima juga mengingatkan agar inovasi tidak sekadar mengejar penghargaan tanpa kesinambungan program.
“Inovasi bukan gimik. Inovasi berfokus pada solusi. Inovasi harus memiliki nilai tambah. Inovasi harus terintegrasi dalam sistem, bukan sekadar tempelan,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah membentuk “Rumah Inovasi Daerah” sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, BRIDA, dan perangkat daerah guna menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. (Uni/Red).




